Satgas Citarum Harum Perkuat Kolaborasi Pentahelix Atasi Sedimentasi, Dansatgas: Pemulihan Sungai Harus Dimulai dari Hulu hingga Hilir

Yatiman
0


Majalah CEO| Kabupaten Bandung
– Permasalahan sedimentasi di Sungai Citarum masih menjadi salah satu tantangan besar dalam upaya percepatan pemulihan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Tumpukan endapan lumpur, pasir, dan material lainnya yang terbawa aliran sungai menyebabkan terjadinya pendangkalan, penyempitan badan sungai, serta menurunnya kapasitas tampung air.


Kondisi tersebut tidak hanya berdampak terhadap kualitas ekosistem sungai, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko banjir saat intensitas curah hujan tinggi serta mengganggu fungsi jaringan irigasi yang menopang sektor pertanian masyarakat.


Komandan Satgas Citarum Harum 2026, Kolonel Inf Yanto Kusno Hendarto, S.H., menyampaikan bahwa persoalan sedimentasi merupakan permasalahan yang harus ditangani secara menyeluruh dan berkelanjutan. Menurutnya, penanganan tidak cukup hanya dilakukan melalui pengerukan atau normalisasi sungai, tetapi harus dibarengi dengan upaya menjaga kondisi wilayah hulu sebagai sumber utama pengendalian sedimentasi.


“Sedimentasi ini tidak bisa diselesaikan sendiri. Penanganannya harus dilakukan secara terpadu dari hulu sampai hilir. Apabila kawasan hulu masih mengalami kerusakan, maka wilayah hilir akan terus menerima kiriman endapan yang menyebabkan pendangkalan sungai,” ujar Kol Inf Yanto Kusno Hendarto saat melaksanakan monitoring kondisi sedimentasi di wilayah Sektor 3 Satgas Citarum Harum, tepatnya di Desa Sindangsari, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Selasa (21/07/2026).


Lebih lanjut Dansatgas menjelaskan, beberapa faktor penyebab meningkatnya sedimentasi di Sungai Citarum antara lain tingginya tingkat erosi di daerah hulu, perubahan fungsi lahan yang tidak terkendali, serta masih adanya perilaku masyarakat yang membuang sampah dan limbah ke lingkungan sungai.


Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, ditemukan sejumlah titik di sepanjang aliran Sungai Citarum yang mengalami pendangkalan cukup signifikan. Kondisi tersebut menyebabkan berkurangnya kemampuan sungai dalam menampung debit air, khususnya ketika memasuki musim penghujan.


Untuk mengatasi persoalan tersebut, Satgas Citarum Harum terus memperkuat sinergi bersama pemerintah daerah, instansi terkait, akademisi, dunia usaha, masyarakat, serta media melalui konsep kolaborasi pentahelix.


Kolaborasi pentahelix yang melibatkan lima unsur, yaitu pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat/komunitas, dan media, menjadi salah satu strategi penting dalam mempercepat penanganan permasalahan DAS Citarum. Melalui keterlibatan seluruh elemen tersebut, upaya normalisasi sungai, pengurangan sumber sedimentasi, serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan dapat berjalan lebih optimal.


“Normalisasi dan pengerukan memang penting untuk mengembalikan kapasitas sungai, tetapi yang lebih utama adalah bagaimana kita mencegah sedimentasi baru. Hal itu hanya dapat terwujud apabila seluruh pihak memiliki kepedulian dan bersama-sama menjaga DAS mulai dari wilayah hulu,” tegas Kol Inf Yanto.


Dansatgas juga menekankan bahwa keberhasilan program Citarum Harum tidak hanya diukur dari kondisi sungai yang bersih, tetapi juga dari meningkatnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan serta keberlanjutan ekosistem DAS Citarum.


Dalam kegiatan monitoring tersebut turut hadir Ketua Pentahelix Kecamatan Baleendah, perwakilan BBWS Citarum, serta anggota Satgas Citarum Harum Sektor 3.


Melalui penguatan kolaborasi pentahelix, Satgas Citarum Harum menargetkan percepatan normalisasi pada titik-titik rawan sedimentasi sehingga daya tampung Sungai Citarum dapat kembali optimal. Upaya tersebut diharapkan mampu mendukung kelancaran aliran air saat musim penghujan serta mengurangi risiko banjir yang selama ini menjadi salah satu ancaman bagi wilayah Kabupaten Bandung.


Dengan semangat kebersamaan dan keterlibatan seluruh unsur, program Citarum Harum terus diarahkan untuk mewujudkan Sungai Citarum yang lebih bersih, sehat, dan berdaya guna bagi masyarakat.**

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)