Perbedaan Gaya Berbahasa Generasi Milenial dan Generasi Z

Yatiman
0

 


Penulis: Eti Hayati, M.Pd (Dosen Universitas Pamulang)

Majalah CEO | Bandung,-Bahasa senantiasa bergerak mengikuti denyut zaman, dan salah satu cermin paling jelas dari pergerakan itu tampak pada cara generasi milenial dan generasi Z menuturkan bahasa sehari-hari. Generasi milenial, yang lahir antara 1981-1996, tumbuh pada masa transisi dari budaya cetak menuju budaya digital, sementara generasi Z, yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, lahir dan besar dalam lingkungan yang telah sepenuhnya digital. Perbedaan konteks sosial-historis inilah yang menurut hemat saya menjadi akar utama munculnya perbedaan gaya berbahasa di antara keduanya, sebuah fenomena yang dalam sosiolinguistik dijelaskan melalui konsep language variation, yaitu perbedaan penggunaan bahasa yang dipengaruhi faktor sosial seperti usia dan konteks komunikasi.


Teori kohort generasi dari William Strauss dan Neil Howe memberikan pijakan untuk memahami fenomena ini: setiap generasi dibentuk oleh peristiwa sejarah dan teknologi yang dialami pada masa formatifnya. Generasi milenial mengalami masa remaja ketika internet mulai populer namun belum menjadi kebutuhan primer, sehingga gaya bahasanya masih dipengaruhi kaidah komunikasi konvensional. Generasi Z tumbuh bersama media sosial dan konten video pendek sejak usia dini, sehingga bahasanya jauh lebih dipengaruhi logika komunikasi digital yang cepat, ringkas, dan visual.


Perbedaan paling mencolok terletak pada formalitas dan register bahasa. Konsep register dalam linguistik fungsional sistemik dari Michael Halliday menjelaskan bahwa pilihan bahasa selalu disesuaikan dengan medan, pelibat, dan sarana komunikasi. Generasi milenial umumnya masih menjaga jarak register antara ranah formal dan informal secara tegas, sementara generasi Z tampak lebih cair dalam menggeser register tersebut, tidak jarang membawa gaya bahasa santai ke percakapan yang semestinya formal—sebuah kecenderungan yang oleh generasi Z sendiri sering dipandang sebagai bentuk keaslian dan efisiensi komunikasi.


Fenomena ini erat kaitannya dengan apa yang disebut David Crystal sebagai netspeak, ragam bahasa yang lahir khusus dari interaksi melalui media elektronik. Generasi milenial mewarisi bentuk awal netspeak melalui singkatan pada pesan singkat dan forum, sedangkan generasi Z melangkah lebih jauh dengan menciptakan akronim baru, sisipan bahasa Inggris yang dipadukan spontan dengan bahasa Indonesia, serta penggunaan emoji sebagai unsur gramatikal yang menggantikan makna kata.


Aspek pencampuran kode (code-mixing) yang dijelaskan Carol Myers-Scotton juga menunjukkan pola berbeda. Generasi milenial cenderung menyisipkan istilah bahasa Inggris untuk konsep yang belum memiliki padanan lazim dalam bahasa Indonesia, sehingga pencampuran tersebut lebih bersifat fungsional. Generasi Z justru banyak mencampurkan bahasa Inggris bukan karena ketiadaan padanan, melainkan sebagai penanda identitas dan gaya, misalnya penggunaan kata seperti "literally" atau "which is" meski padanannya tersedia dalam bahasa Indonesia.


Kecepatan perubahan kosakata turut menjadi pembeda signifikan. Jika pada masa milenial istilah gaul baru menyebar dalam hitungan bulan melalui televisi atau pergaulan tatap muka, generasi Z hidup dalam ekosistem media sosial yang membuat sebuah istilah viral hanya dalam hitungan hari. Hal ini sejalan dengan teori difusi inovasi Everett Rogers, di mana algoritma platform berbagi video pendek berfungsi sebagai akselerator yang mempercepat adopsi istilah baru secara masif.


Struktur kalimat pun berbeda, generasi milenial masih cenderung menyusun kalimat relatif lengkap dengan subjek dan predikat jelas, sementara generasi Z lebih sering menggunakan kalimat terfragmentasi, huruf kecil tanpa kapitalisasi, dan tanda baca yang dipakai secara ekspresif. Gaya ini berkaitan dengan konsep computer-mediated communication, yang menjelaskan bagaimana medium komunikasi turut membentuk bentuk pesan itu sendiri.


Sikap terhadap penyimpangan kaidah bahasa baku juga berbeda. Generasi milenial umumnya masih memandang bahasa baku sebagai rujukan utama meski sering menyimpang darinya dalam praktik sehari-hari. Generasi Z memiliki relasi yang lebih longgar dan playful terhadap kaidah baku; penyimpangan ejaan atau penciptaan istilah baru justru dirayakan sebagai bentuk kreativitas berbahasa, sejalan dengan pandangan sosiolinguistik Janet Holmes bahwa slang berfungsi membangun solidaritas kelompok dan menandai identitas.


Meskipun demikian, perbedaan ini tidak seharusnya dipandang sebagai pertentangan tajam atau tanda kemunduran kualitas berbahasa generasi muda, sebagaimana sering dituduhkan sebagian kalangan senior. Perbedaan gaya berbahasa antargenerasi merupakan konsekuensi alami dari perubahan sosial dan teknologi pada masa pembentukan jati diri masing-masing generasi, sejalan dengan hakikat bahasa sebagai sistem yang dinamis. Yang perlu diperhatikan justru kemampuan kedua generasi untuk saling memahami dan beradaptasi dalam komunikasi lintas generasi, terutama dalam konteks profesional dan pendidikan, agar perbedaan gaya bahasa menjadi kekayaan variasi yang saling memperkaya, bukan penghambat komunikasi.


Dengan demikian, perbedaan gaya berbahasa antara generasi milenial dan generasi Z merupakan cerminan nyata bagaimana konteks sosial, historis, dan teknologis membentuk cara manusia berkomunikasi. Generasi milenial berdiri sebagai generasi transisi yang menjembatani budaya komunikasi konvensional dengan budaya digital, sementara generasi Z tumbuh sebagai generasi asli digital yang bahasanya lahir dan berkembang sepenuhnya dalam ekosistem media sosial. Pada akhirnya, sikap paling bijak dalam menghadapi perbedaan ini bukanlah saling menghakimi gaya berbahasa generasi lain sebagai yang lebih benar atau lebih rusak, melainkan membangun kesadaran bahwa keragaman gaya berbahasa antargenerasi adalah bagian alami dari perjalanan sebuah bahasa yang hidup, sekaligus peluang bagi setiap generasi untuk saling belajar dan memperkaya khazanah komunikasi bersama.**

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)