Menelusuri Rumah Bersejarah Inggit Garnasih, Ada Kisah di Setiap Sudutnya

Yatiman
0


Majalah CEO | Bandung,-Sebagai istri Soekarno yang menikah pada tahun 1923, Inggit Ganarsih memainkan peran krusial di balik layar perjuangan sang Proklamator. Ia tidak hanya menjadi pendamping hidup, tetapi juga pencari nafkah utama lewat usahanya menjahit, berjualan jamu, dan membuat bedak untuk membiayai kebutuhan rumah tangga serta menyokong kegiatan politik dan pendidikan Soekarno hingga meraih gelar insinyur dari THS (kini ITB). Keteguhan dan keikhlasannya dalam menemani Bung Karno melewati masa-masa sulit pergerakan nasional menjadi jejak sejarah yang amat berarti.


Kisah tersebut ditelusuri melalui Rumah Bersejarah Inggit Garnasih di Jalan Ibu Inggit Garnasih Nomor 8, Kota Bandung. Suasana rumah yang hangat dan bersahaja menyambut pengunjung untuk mengenal lebih dekat sosok Inggit Garnasih melalui cerita dan koleksi yang tersimpan di dalamnya.


Juru pelihara sekaligus pemandu Rumah Bersejarah Inggit Garnasih, Jajang Ruhyat menjelaskan, rumah tersebut dibeli oleh Soekarno dan Inggit Garnasih pada 1926. Keduanya menempati rumah itu hingga 1934.


“Selama delapan tahun tersebut, rumah ini menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka sekaligus menyimpan kisah perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia,” ujar Jajang.


Rumah ini menyimpan kisah tentang peran Inggit yang tidak hanya mendampingi Soekarno dalam kehidupan pribadi, tetapi juga mendukung perjuangannya di tengah tekanan pemerintah kolonial Belanda.


Salah satu kisah yang dikenang adalah upaya Inggit menjaga komunikasi dengan Soekarno saat berada di penjara. Ia menyampaikan pesan bersandi yang disamarkan melalui telur rebus maupun makanan yang dibawanya ketika menjenguk.


Kisah tersebut menggambarkan kecerdikan dan pengorbanan Inggit dalam menghadapi situasi penuh keterbatasan. Melalui rumah ini, pengunjung dapat mengenal sejarah dari sudut pandang yang lebih dekat, termasuk peran perempuan di balik perjalanan seorang tokoh bangsa.


Pengalaman berkunjung juga dilengkapi dengan koleksi benda yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari Inggit. Salah satunya, terdapat ulekan tradisional yang digunakan untuk membantu proses pembuatan bedak serta ramuan jamu yang dikenal dengan nama “Kansai” dan “Ningrum”.


Koleksi tersebut memberikan gambaran tentang keterampilan Inggit dalam meracik produk perawatan dan ramuan tradisional. Benda-benda ini sekaligus memperlihatkan sisi lain kehidupannya yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat.


Suasana rumah yang hangat berpadu dengan cerita dan koleksi bersejarah menjadikan kunjungan terasa lebih personal. 


Pengunjung tidak hanya melihat benda peninggalan masa lalu, tetapi juga diajak memahami sosok Inggit Garnasih sebagai perempuan yang memiliki keterampilan, peran, dan kontribusi dalam perjalanan sejarah Indonesia.


Menurut Jajang, perhatian masyarakat terhadap Rumah Bersejarah Inggit Garnasih mulai meningkat sejak 2014, seiring semakin banyaknya pihak yang mengenalkan keberadaan rumah tersebut melalui media sosial.


Meski demikian, ia berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang tertarik mengunjungi tempat bersejarah agar dapat mengenal sejarah secara langsung.


Dalam rangka Hari Museum Nasional, yuk, kenali lebih dekat kisah perjuangan Inggit Garnasih dengan mengunjungi rumah bersejarahnya di Kota Bandung. Gratis! (Faisal/Wildan/Fais/Magang)**




Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)