DUNIA DI AMBANG KRISIS PANGAN

Dody Zuhdi
0

 



_Ilmu hikmah_


Wayan Supadno



Ada 44 negara diprediksi oleh Organisasi Pangan Dunia (FAO) akan mengalami krisis pangan dunia. Itu akan makin jadi kenyataan jika terjadi Perang Dunia ke III. Tentu hipotesa dan peringatan dini di atas punya dasarnya.


Setidaknya data empirik selama ini ditabulasikan dan dianalisa. Lalu membuat kesimpulan prediksi yang akan terjadi. Fenomenanya ke mana arahnya, jika digambarkan dalam statistika. Biasa disebut ilmu ekonometrika.


Misal saja, jumlah penduduk saat ini berapa dan penambahan berapa dalam 6 tahun mendatang. Lalu akan jadi berapa pada tahun 2030. Begitu juga kebutuhan pangan selama ini dan prediksinya berapa banyak tahun 2030.


Saat bersamaan, saat ini jumlah produksi pangan berapa saja. Pertumbuhan jumlah produksinya berapa banyak selama 6 tahun lagi hingga tahun 2030. Lalu total berapa banyak pangan tersedianya. Apakah itu cukup untuk semua penduduk dunia.


Skala nasional di Indonesia. Juga bisa " dikaji intensif " simulasinya apa yang akan terjadi pada peta jumlah produsen pangan, luas lahan dan daya dukung lain serta jumlah produksinya. Apakah sudah mumpuni dan sebanding dengan kebutuhannya.


Jika ternyata kurang, apakah dengan mudahnya bisa impor dari negara lain. Jika ternyata impor sulit didapat sesuai jumlah kebutuhan, apa sebabnya. Karena kurang dana (devisa) atau jumlah pangan yang diperdagangkan di pasar global kurang.


Ternyata hasil kajian para ekonom pangan kelas dunia bahwa volume produksi pangan tidak lagi sebanding dengan jumlah konsumsinya. Punya dana banyak pun, bukan solusi. Karena yang dibeli tidak ada. Ini yang dikhawatirkan oleh para pemimpin dunia saat ini.


Sehingga semua pemimpin negara dituntut agar bisa " mengamankan " pangan di negaranya sendiri. Tidak cukup hanya punya dana banyak. Jika ini gagal maka akan rebutan pangan. Yang lemah akan kelaparan. Ini ancaman seriusnya.


Upaya di Indonesia, APBN puluhan triliun penambahannya, salah satunya untuk pupuk subsidi dan cetak sawah lahan rawa di Sumatera Selatan yang sedang digarap saat ini. Selain itu pembagian pompa air ribuan unit maupun sumur bor.


Selain itu, agar ada kepastian pangan di masa depan cukup. Hingga mendatangkan investor dari RRC mau cetak sawah di Kalteng. Akan alih teknologi. Persis ATP (amati, tiru, plek) atau ATM (amati, tiru, modifikasi). Selamat datang berbagi pengalaman di Indonesia.


Persis tahun 1984, Indonesia diminta jadi Mentor ke Ethiopia yang sedang dilanda musibah kelaparan. Hingga mengirim banyak PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) dan bantuan beras. Begitu juga ke Vietnam dan Malaysia, kita pernah jadi Guru dan Pelatihnya.


Welcome. RRC mau investasi cetak sawah padi di Kalteng. Itu biasa. Tak ubahnya di Vietnam properti paling populer milik Ciputra. Pabrik Indomie terbesar di Ethiopia milik orang Indonesia. Peternakan sapi di Australia dan Selandia Baru juga milik orang Indonesia.


Terbayang oleh saya. Tidak lama lagi, gurun pasir di Kalteng jutaan hektar. Seperti pada video di bawah ini. Akan jadi sentra padi persis gurun pasir di RRC dan Dubai yang jadi sentra padi. Sama halnya Israel dan Ethiopia. Karena mereka duluan inovatif.


Ilmu hikmahnya. Semoga judul di atas jadi kalimat bersukma pengingat agar kita lebih bijak cerdas mengantisipasi dengan langkah konkret terencana matang terukur dan inovatif. Mutlak harus bisa preventif, menghindari terjadinya kelaparan dunia. 


Seperti yang diingatkan oleh para pemimpin dunia. Hanya ikut partisipasi, solusinya buat kita. Sesungguhnya, ini peluang emas buat kita untuk produksi pangan.



Salam Inovasi 🇮🇩

Wayan Supadno

Pak Tani

HP 081586580630

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)